Senin, 20 Januari 2014

Menikmati Humor Gus dur

sumber http://terisicyber75.blogspot.com/
Ada satu hal yang sangat ingat betul tentang Gus Dur yang terkait dengan pengalaman pelayanan saya sebagai seorang pendeta Gereja Kristen Pasundan. Ini terjadi di tahun 2001. Pada saat itu, sekitar akhir awal bulan Juni 2001 saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung di Timor Timur yang baru saja lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saat itu saya beberapa kawan bergabung dengan sebuah LSM asal Korea Selatan untuk sebuah misi pelayanan bagi anak-anak sekolah minggu. Saat saya berangkat menuju Timor Timor, Gus Dur adalah orang nomor satu di negeri yang kita cintai ini. Sebuah kenyataan yang membanggakan karena seorang sosok yang sangat pluralis dan berwawasan kebangsaan yang dalam menjadi seorang presiden di negeri ini. Dua bulan berada di satu desa di distrik Los Palos, hidup tanpa aliran listrik dan akses ke media membuat saya tidak tahu perkembangan yang terjadi di dunia luar, termasuk perkembangan di negeri sendiri. Selang dua bulan tertugas di Timor Timur saya kembali ke wilayah Indonesia, tepatnya di kota Atumbua barulah saya tahu ada perkembangan politik yang luar biasa mengejutkan. Seorang Gus Dur dilengserkan dari kedudukannya sebagai presiden dan digantikan oleh Megawati.

Ingatan saya tentang seorang Gus Dur bukanlah saja tentang peristiwa pelengserannya dari jabatan kepresidenan negeri ini. Ingatan saya tentang sosok seorang Gus Dur yang bagi sebagian orang dikenal sebagai seorang yang kadang controversial dengan berbagai pernyataannya, adalah humor-humornya. Humor khas Gus Dur yang cerdas, renyah, mengena karena kadang mengandung kritikan tetapi juga jenius karena mengajak kita untuk sesaat menertawakan diri sendiri. Misalnya saja  tentang humor fenomena ‘gila’ presiden Indonesia yang dilontarkan Gus Dur. Dikatakan bahwa presiden pertama Indonesia dikenal gila perempuan, presiden kedua dikenal gila harta, presiden ketiga gila teknologi dan presiden keempat, yaitu dirinya sendiri, yang “gila” adalah yang memilihnya. Humor ini ‘katanya’ pernah dilontarkan Gus Dur di depan Fidel Castro dan membuat Fidel Castro tertawa terpingkal-pingkal. Atau humor yang senada dengan itu, misalnya saat Gus Dur melontarkan pendapatnya bahwa seluruh presiden Indonesia itu KKN. Presiden pertama ‘Kanan Kiri Nyonya’, presiden kedua ‘Kanan Kiri Nyolong’, presiden ketiga, yaitu BJ Habibie ‘Keci-kecil Nekad’ dan dirinya sendiri sebagai presiden keempat, ‘Kanan Kiri Nuntun;. Ini pembelajaran yang luar biasa. Tentunya bukan bermaksud mengejek, tetapi membuat kita yang mendengarnya sedang diajar untuk bisa menertawakan diri sendiri. Banyak orang yang terlalu sering menertawakan orang lain, tetapi tidak bisa menertawakan dirinya sendiri. Buat saya yang mendengarnya, humor semacam ini sungguh jenius. Ya, orang yang sanggup menertawakan dirinya sendiri adalah orang jenius dan berhati besar untuk bisa menerima juga kehadiran orang lain apa adanya, karena ia melihat dirinya apa adanya.

Humor saya yakini juga dipergunakan oleh Gus Dur untuk melontarkan kritik yang tajam dan pedas. Misalnya terhadap keberadaan para wakil rakyat di dewan perwakilan rakyat. Gus Dur pernah mengatakan bahwa alkisah suatu ketika ada satu rancangan kebijakan baru bahwa setiap orang yang punya status wakil akan dinaikkan pangkatnya. Ini artinya, wakil presiden akan menjadi presiden, wakil gubernur akan menjadi gubernur, wakil komandan akan menjadi komandan, wakil direktur akan menjadi direktur dan seterusnya. Rancangan Kebijakan ini lalu diajukan kepada dewan perwakilan rakyat supaya dapat diundang-undangkan secepatnya. Rupanya di dewan, rancangan kebijakan ini ditolak mentah-mentah. Alasan para anggota dewan adalah karena kebijakan ini jelas akan menyengsarakan anggota DPR. Bayangkan semua anggota DPR yang adalah ‘wakil’ rakyat akan berubah status menjadi rakyat. Saya tertawa terpingkal-pingkal saat menbaca humor ini dan melihat kebenarannya. Seandainya ada rancangan kebijakan seperti ini, jelas semua anggota DPR pasti menolakknya. Wong sebagai ‘wakil’ rakyat mereka memang benar-benar telah ‘mewakili’ rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia ingin sekali-kali berobat ke luar negeri, sudah ‘diwakili’ anggota DPR. Rakyat Indonesia berharap makmur sejahtera, ya itupun sudah ‘diwakili’ anggota DPR. Rakyat Indonesia berharap bisa punya penghasilan yang cukup, itupun sudah ‘diwakili’ anggota DPR dengan gaji yang wah. Jelas mereka ini pasti tidak mau berubah status dari ‘wakil rakyat’ menjadi rakyat saja. Di sini terlihat humor dipergunakan dengan jenius oleh Gus Dur untuk menjadi alat melontarkan kritik pedas dengan nada yang jenaka.

Selain itu humor Gus Dur yang cerdas, adalah humor yang mampu memberi orang lain semangat dan motivasi untuk melakukan sesuatu. Misalnya kisah yang dituturkan oleh Mahfud MD saat diinterview oleh salah satu televisi swasta. Mahfud MD bercerita bahwa ia hampir saja menolak penunjukkannya sebagai menteri pertahanan oleh Gus Dur yang menjabat presiden RI saat itu. Mahfud beralasan bahwa ia tidak memiliki latar belakang TNI/Polri dan tidak memiliki pengetahuan mengenai pertahanan. Alasan ini ia utarakan kepada Gus Dur. Tak dinyana jawaban Gus Dur sangatlah cerdik. Dengan santan Gus Dur mengatakan, “Pak Mahfud harus bisa. Saya saja menjadi Presiden tidak perlu memiliki latar belakang presiden kok.” Kontan saja Mahfud MD tidak bisa berkutik dan menerima penunjukkann dirinya sebagai menteri pertahanan.

Dan sebagai seorang yang penuh dengan warna dan sangat pluralis, tidak jarang dalam pertemuan dengan pemeluk agama lain Gus Dur pun kerap melontarkan humor yang dapat diterima dengan baik. Humor menjadi pengerat persaudaraan antar umat beragama tanpa harus takut dianggap menghina dan melecehkan karena dilontarkan dengan ketulusan. Umpamanya saat menjadi presiden, Gus Dur bertemu dengan para pastor dari Keuskupan Agung Semarang. Dalam pertemuan itu, Gus Dur bercerita bahwa alkisah ada sejumlah pastor di sebuah negeri amat senang berburu binatang buas. Sekali waktu, sehabis misa hari minggu, seorang pastor pergi ke hutan hendak berburu binatang buas. Ia melihat seekor macan dan langsung mengokang senapannya. Dor! Dor! Sang pastor menembak si macan tapi sayangnya tembakkannya meleset. Sang macan balik mengejar sang pastor. Sang pastor lari tunggang langgang sampai pada sebuah tepi jurang dan tidak bisa lagi lari. Maka si pastor pun berhenti, berlutut dan mulai berdoa dalam doa terakhir sebelum diterkam macan. Selesai berdoa, sang pastor terheran-heran karena ternyata ia masih hidup. Ia lebih terheran-heran lagi melihat sang macan juga berlutut sambil mengatupkan kedua kaki depannya tidak jauh dari posisinya. Sambil terheran-heran, sang pastor bertanya kepada sang macam, ‘Macan, kamu kok tidak menerkam saya, malah ikut-ikutan berdoa? Kenapa?”. Jawab sang macan, “Ya saya sedang berdoa. Berdoa sebelum makan.” Saya yakin pendengar Gus Dur saat itu pasti tertawa terpingkal-pingkal tanpa merasa dilecehkan keagamaannya. Karena mereka pasti tahu siapa Gus Dur, dan terlebih lagi karena yakin bahwa Gus Dur melontarkan humornya dalam ketulusan hati seorang yang mampu menerima keberagaman dalam hidup ini.

Sesungguhnya banyak sekali humor ala Gus Dur. Humor yang ditunggu-tunggu banyak orang saat mereka bertemu dengan Gus Dur. Gus Dur secara jenius menggunakan humor sebagai sebuah media komunikasi bahkan media kritis social. Gus Dur mampu melihat bahwa tertawa itu mampu menjernihkan dan menjelaskan  suasana, dan tentu saja menghadirkan keriangan yang pada akhirnya memperkuat tali silahturahmi juga. Humor yang melahirkan tawa yang memang diperlukan oleh manusia saat ini untuk menjaga keseimbangan pribadi dan jiwanya. Humor yang mampu melepaskan ketegangan dan menggantikannya dengan keriangan yang membahagiakan.

Jarang ada seorang pemimpin seperti Gus Dur. Entah sebagai seorang kiayi, sebagai seorang presiden, atau sebagai sosok yang sangat pluralis atau sebagai seorang guru bangsa. Kangen dengan Gus Dur dan humor-humornya. Kangen karena banyak pemimpin saat ini hanya bisa mengeluh dan curhat yang malah kesannya lebay. Semoga ada ‘Gus Dur – Gus Dur’ lain yang mampu menyatukan bangsa ini lewat sesuatu yang sederhana : humor.

tulisan ini dimuat di cirebonpost.com     



Tidak ada komentar:

Posting Komentar