Selasa, 21 April 2020

Pujitlah Tuhan Sang Pencipta: Membaca Mazmur 104

Pendahuluan

Salah satu rangkaian kegiatan perayaan HUT ke-85 Gereja Kristen Pasundan adalah penanaman pohon bakau di hutan bakau di sekitar Cirebon. Program ini dimaksudkan untuk melindungi pantai dari erosi dan abrasi air laut, juga untuk melindungi pemukiman penduduk di tepi pantai dari terpaan badai dan angin laut. Manfaat lain dari keberadaan hutan bakau adalah mencegah intrusi (perembesan) air laut, sebagai tempat hidup satwa liar seperti ikan, udang, kepiting, burung dan monyet, sekaligus dapat menjadi tempat edukasi ekologi, serta dapat berfungsi sebagai pencegah proses perubahan iklim yang drastis dengan penyerapan CO2 dari udara.

Tentu saja, program yang dilakukan oleh Gereja Kristen Pasundan ini adalah bagian dari perhatiannya terhadap persoalan-persoalan lingkungan hidup yang ada di sekitarnya. Juga sebagai bagian dari upaya GKP menjadi Gereja bagi sesama dan upaya GKP memenuhi rencana pencapaian yang tertera dalam Rencana Kerja Dasarnya. Harapannya, perhatian GKP terhadap masalah lingkungan hidup tidak berhenti di program penanaman pohon bakau kali ini saja, tetapi juga terus dilakukan dalam berbagai bentuk program lainnya. Bahkan, melaluinya terjadi perubahan perilaku yang semakin ramah terhadap lingkungan.

Mengenal Mazmur 104

Kata “mazmur”[3] atau dalam bahasa Inggris “psalm” dan “psalter” (bahasa Latin “psalmi” dan “psalterium”), bahasa Yunaninya adalah “psalmoi” dan “psalterion”. Rupanya terjemahan-terjemahan ini adalah penerjemahan kata asli yang berbahasa Ibrani yaitu “mizmor”, artinya “lagu atau nyanyian atau kidung rohani yang dimainkan dengan alat musik.”[4] Dalam Alkitab kanon Ibrani, judul dari Mazmur adalah “seper tehilim” atau “buku nyanyian atau pujian” meskipun tidak seluruh mazmur berisi puji-pujian atau nyanyian. Istilah ini adalah nama yang baku, sebab secara umum, Mazmur memiliki tema pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan yang muncul berulang-ulang.[5] Alkitab kanon Ibrani sendiri terbagi atas tiga bagian besar, yaitu Hukum (the Law), Para Nabi dan Tulisan-tulisan (the Prophets and the Writings), dan Buku Pujian.[6]

Menurut seorang ahli berkebangsaan Jerman, H. Gunkel, ada lima tipe mazmur, yaitu himne (bahasa Ibrani: tehilla; Mazmur 8, 19a, 29, 33, 46-48, 65, 66a, 76, 84, 87, 93, 95-100, 103-104, 113-114, 117, 122, 134-136 dan 145-150), mazmur ratapan komunal (Mazmur 60, 80, 126), mazmur kerajaan (Mazmur 2, 18, 20, 45, 110), mazmur ratapan pribadi (Mazmur 3-7, 22, 25-28, 51, 54-57, 139-143) dan mazmur ucapan syukur pribadi (Mazmur 30, 32, 34, 41, 116, 138)[7]. Gunkel menambahkan beberapa tipe mazmur lain di luar lima tipe utama di atas, yaitu mazmur yang berbentuk pengucapan syukur komunal (Mazmur 124), mazmur hikmat (Mazmur 1, 112), mazmur penziarahan (Mazmur 37, 49) dan berbentuk liturgi (Mazmur 75, 85).[8] Selain pembagian yang dilakukan Gunkel tersebut, Kitab Mazmur dapat dibagi ke dalam lima bagian yaitu pasal 1-41, 42-72, 73-89, 90-106 dan 107-150[9], dan setiap bagian telah meliputi adanya doksologi, dan formulasi liturgis untuk memuji Tuhan (pasal 41:13, 72:18-19, 89:52, 106:48 dan pasal 150).[10]

Sementara itu, Witte melakukan pengelompokan Mazmur berdasarkan dua kelompok besar yaitu kelompok tematik dan kelompok topikal. Kelompok tematik dibagi menjadi mazmur keluhan dan permohonan (Mazmur 3-6, 9-14, 22, 25-28), mazmur syukur dan pujian (Mazmur 135-136, 138, 144-150) dan mazmur YHWH sebagai Raja (Mazmur 29, 47, 92-99). Sedangkan mazmur topikal dibagi menjadi mazmur penitensi atau penyesalan dosa (Mazmur 6, 32, 38, 51, 102, 130, 143), mazmur pembuangan (Mazmur 44, 74, 79, 126, 137), mazmur historis (Mazmur 77-78, 105-106, 114), mazmur Kerajaan (Mazmur 2, 18, 20-21, 45, 68, 72, 89, 101, 110, 132, 144), mazmur balas dendam (Mazmur 69, 109, 137), mazmur penciptaan (Mazmur 8, 29, 104), mazmur Taurat (Mazmur 1, 19, 119), mazmur hikmat (Mazmur 37, 49, 73), mazmur Sion (Mazmur 46, 48, 76, 84, 87) dan mazmur Haleluya (Mazmur 113-118, 135-136, 146-150).[11]


Bentuk, Struktur dan Setting

Salah satu bentuk atau tipe Mazmur adalah himne atau Mazmur puji-pujian. Paruhan ketiga dari keseluruhan Kitab Mazmur mengambil bentuk himne. Selain pasal 104, paruhan ketiga Mazmur ini berasal dari masa setelah pembuangan, sementara Mazmur lainnya yang ada di paruhan pertama dan kedua dari keseluruhan Kitab Mazmur berasal dari masa sebelum pembuangan.[12] Disebut sebagai mazmur pujian atau himne oleh karena isinya dikaitkan dengan kekuasaan dan keilahian Yahwe yang termanifestasi dalam dua ide utama: Tuhan adalah Pencipta alam semesta dan kasih Tuhan yang menunjukkan dan menampakkan kuasa-Nya dalam sejarah Israel.[13] Mazmur yang berpusat pada tema penciptaan atau kemahakuasaan Tuhan yang mengatasi alam semesta, dapat kita temukan dalam isi Mazmur 8, 29 dan 104.

Struktur Mazmur yang paling umum muncul adalah:

  • Panggilan untuk memuji Tuhan
  • Bagian utama: motivasi untuk memuji
  • Pengulangan final dari panggilan untuk memuji

Sebagai contoh, Mazmur 117 yang adalah Mazmur terpendek, dapat memberikan gambaran jelas terhadap struktur Mazmur di atas:[14]

1      Pujilah TUHAN, hai segala bangsa megahkanlah Dia,
        hai segala suku bangsa!
2a-b Sebab kasih-Nya hebat atas kita dan kesetiaan TUHAN
        untuk selama-lamanya.
2c    Haleluya!

1      adalah bagian yang berisi panggilan memuji Tuhan
2a-b adalah bagian yang memotivasi umat untuk memuji Tuhan
2c    pengulangan terhadap ayat 1

Mazmur 104, yang menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini, adalah Mazmur yang luar biasa. Bukan saja karena panjangnya, tetapi juga karena konsentrasinya pada tema penciptaan yang rupanya memiliki kaitan dengan urutan penciptaan dalam Kitab Kejadian (pasal 1) dan juga memiliki kesejajaran dengan himne pujian orang Mesir kepada Dewa Aton (atau Aten, yaitu Dewa Matahari bangsa Mesir) melalui Firaun Akhenaten.[15] Kesejajarannya adalah sebagai berikut:

104:1-5
Penciptaan langit dan bumi
Kejadian 1:1-5
104:6-9
Air dipisahkan dari daratan
Kejadian 1:6-10
104:10-13
Kegunaan air
104:14-18
Penciptaan tanam-tanaman
Kejadian 1:11-12

Kejadian 1:13
104:19-24
Penciptaan benda langit dan binatang
Kejadian 1:14-18

Kejadian 1:19
104:25-26
Penciptaan binatang di air / laut
Kejadian 1:20-22

Kejadian 1:23
104:27-30
Allah memelihara dan penciptaan makhluk hidup lainnya
Kejadian 1:24-37

Kejadian 1:28-31
104:31-35


Bila kita lihat kesejajaran di atas, maka Mazmur 104 ini memiliki kesejajaran menarik dengan isi Kejadian pasal 1, terutama yang menunjuk pada ide penciptaan yang sulit dikatakan terjadi dari ketiadaan (ex nihilo) dan kesejajaran dengan himne Firaun Akhenaten kepada Dewa Matahari. Kedua hal ini memberi kita petunjuk adanya saling keterkaitan dan ketergantungan antara Mazmur dengan isi Kejadian pasal 1 dan himne Firaun Akhenaten (paling kuat terada dalam ayat 20-30).[16] Mazmur ini dipahami sebagai bentuk puisi dari isi Kejadian pasal 1, dan yang pasti kedua teks (teks dalam Kitab Kejadian dan Mazmur) ini mengekspresikan teologi yang sama tentang Pencipta dan penciptaan.

Struktur Mazmur 104 adalah:[17]

104:1a           

Pendahuluan
104:1b-35(a)

Pujian kepada Sang Pencipta Semesta

104:1b-4
Kemahakuasaan Tuhan               

104:5-9              
Air yang kacau di singkirkan

104:10-13   
Tuhan Penopang kehidupan dalam dunia

104:14-18            
Tuhan Penopang bagi manusia dan hewan

104:19-23
Matahari dan bulan menerima perintah dari Tuhan

104:24-26             
Ciptaan dan Sang Pencipta

104:27-30         
Pemberi hidup dan sukacita

104:31-35(a)       
Pujian takjub atas kuasa Tuhan
104:35(bc)

Penutup

Dalam tradisi Yudaisme, Mazmur 104 dinyanyikan di pagi hari pada perayaan Yom Kippur atau hari pendamaian sebagai sebuah ungkapan sukacita, syukur bahkan janji atas kehidupan baru yang muncul dari segala kesedihan dan kesengsaraan. Umat Yahudi menyanyikan isi Mazmur 104 ini di setiap akhir bulan dengan maksud menguduskan bulan baru yang akan segera mereka jalani dan dinyanyikan secara khusus pada hari Sabat dalam perayaan Sukkoth sampai ke masa Paska, dan dipergunakan untuk menyambut hari baru dan kehidupan baru yang muncul di musim semi.[18]

Mazmur ini bersifat riang dan lirik-liriknya terkandung nada kegembiraan.[19] Isi Mazmur adalah pujian kepada Tuhan sebagai satu-satunya (The One) yang menciptakan alam semesta dan menyediakan segala sesuatu bagi segenap ciptaan yang tinggal di dalamnya. Isinya tentang pandangan pemazmur tentang dunia dan alam yang adalah di dalamnya yang disampaikan secara puitis. Pemazmur menyampaikan bahwa dunia dan alam semesta adalah kasih karya dan kerja Allah. Pemazmur dengan sengaja menawarkan pandangan yang dapat menguatkan iman pembacanya yang kini penuh dengan rasa takjub dan sukacita atas semua yang Tuhan telah ciptakan. Isi Mazmur merayakan keilahian Tuhan yang terefleksi dalam keseimbangan dan keagungan segenap ciptaan Tuhan yang luar biasa.

Mazmur 104 dimulai dan berakhir dengan pembukaan dan penutupan yang sama dalam Mazmur 103 yang berbunyi, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku”. Kalimat pembuka dan penutup ini rupanya muncul secara khusus hanya di kedua mazmur ini. Hal ini menjadikan keduanya menjadi Mazmur kembar. Keduanya bicara tentang besarnya kasih Tuhan atas segenap ciptaan dan juga keragaman ciptaan yang luar biasa, serta keberlangsungan ciptaan yang didasarkan hanya pada hikmat dan kasih Tuhan. Jadi, kedua Mazmur ini sama-sama memuji Tuhan sebagai Penyelamat yang memberikan pengampunan (103) dan Pencipta yang menyediakan segala sesuatu (104). Kedua Mazmur ini mengekspresikan apa yang seharusnya dipahami dari Allah dan pemerintahan-Nya.

Mazmur 104 adalah mazmur yang berbentuk dan bersifat himne, dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Tuhan. Di antara bagian pembukaan dan penutup, puji-pujian kepada Tuhan muncul. Mazmur ini dapat dibagi tiga bagian sebagai sebuah himne atau sebagai sebuah nyanyian, yaitu ayat 1b-9, 10-23 dan 24-30.[20] Dari pembagian ini, maka kita dapat menemukan bahwa bagian pertama Mazmur memotret Tuhan Allah sebagai Pencipta yang berdaulat. Hal ini mulai dari aklamasi bahwa kehebatan Allah, dan bagian selanjutnya adalah penjabaran tentang kehebatan Allah. Potret Allah sebagai yang berpakaian keagungan yang terang dan membangun kediaman-Nya di atas air. Hal ini menunjukkan bahwa Allah berkuasa atas air (ayat 2b dan 3b) dan digambarkan sebagai seorang pahlawan yang menggunakan angin, petir dan badai sebagai kendaraan-Nya. Mazmur ini juga menggambarkan Tuhan sebagai seorang pahlawan yang menggunakan awan sebagai kereta perang-Nya dan bergerak dengan menggunakan sayap angin (ayat 3bc), menjadikan angin sebagai pesuruh-pesuruhnya (ayat 4), berjaya mengatasi lautan dan menunjukkan kekuatan-Nya atas bumi dan air yang dibuat-Nya tidak lagi menutupi bumi tetapi ada pada tempat yang telah ditetapkan-Nya (ayat 9). Gambaran ini adalah adaptasi dari pola teologi bangsa Israel, yaitu. “Tuhan berkuasa dan bumi pun aman”. Bagian ini juga dekat dengan pola mitologi dari masyarakat Timur kuno tentang aktivitas dewa-dewa mereka. Bumi dengan segala proses yang terjadi di dalamnya, musim-musim dan produktivitasnya mendapatkan jaminan di dalam kekuatan dan kuasa Allah. Penciptaan dunia ini adalah tidak hanya tentang aktivitas penciptaan materinya saja, tetapi pada pencapaian kontrol yang menghasilkan fungsi dan keteraturan dari segala sesuatu. Dunia ini selalu tergantung pada kekuasaan Tuhan yang mengontrol segala sesuatu yang menjadikan teratur. Di dalam Mazmur ini, kita dapat melihat bahwa seluruh ciptaan dan ini berarti seluruh yang hidup di dalam dunia, tidak dapat tidak bergantung pada kekuasaan dan kekuatan Tuhan.

Di dalam bagian kedua dari struktur badan himne, kita dapat menemukan ulasan pengarang tentang bagaimana Allah menyediakan kehidupan kepada segenap ciptaan-Nya. Ulasan ini juga menyampaikan bagaimana Tuhan mengontrol dunia dan menyediakan pemeliharaan terhadap seluruh ciptaan. Hal ini muncul terhubung dengan keberadaan air (ayat 10-11, 13, 16), makanan (ayat 10-15, 17), habitat hidup (ayat 12, 17-18) dan waktu (ayat 19-23). Dari bagian ini kita dapat melihat bahwa hasil dari perbuatan penciptaan sengaja Tuhan adalah untuk memberikan seluruh ciptaan apa yang dibutuhkannya dan apa yang baik untuk kehidupannya. Ada satu hal penting dan menarik di bagian ini. Manusia, yang muncul dalam ayat 14-15 dan 23, hanya dianggap sebagai salah satu ciptaan yang hidup di dalam dunia dan di lingkungan yang ada di dalam dunia itu sendiri. Dalam pujian Tuhan sebagai Sang Pencipta, manusia dilihat hanya sebagai salah satu ciptaan yang dapat bertahan dan memiliki kelangsungan hidup dari pemeliharaan Tuhan saja. Iman kepada Sang Pencipta mengajar manusia untuk menghargai keberadaan dunia dengan segala isinya dan tergantung pada apa yang dunia sediakan (tempat berlindung, makanan, minuman, lingkungan hidup dan sebagainya). Manusia adalah satu dari sekian banyak ciptaan Tuhan, itu saja dan tidak lebih.

Dalam bagian ketiga (ayat 24-30), kita dapat menemukan ada dua pengamatan tentang segala ciptaan yang rupanya meringkas pandangan yang sudah ada sebelumnya. Pertama adalah aklamasi rasa takjub atas hikmat Tuhan yang telah menciptakan begitu banyak ciptaan (ayat 24). Daftar yang ada dalam bagian sebelumnya (ayat 10-23), hanya sebuah daftar awal yang tidak dapat diselesaikan oleh manusia sendiri. Penekanan ada pada kata “כלם “ (dari kata dasar bahasa Ibrani: כּול kol, “all” atau dalam Alkitab berbahasa Indonesia TB diterjemahkan “sekaliannya”). Semua adalah ciptaan Tuhan. Saat kita membaca Mazmur ini, kita dapat melihat bahwa setiap dan seluruh makhluk hidup, bahkan dengan bentuk yang aneh serta menyeramkan sekalipun, adalah hasil pekerjaan Tuhan yang menciptakannya semua. Alam semesta dengan segala keragaman dan kompleksitasnya adalah “lemari pajang” yang menampilkan hikmat Tuhan. Pemazmur melihat pekerjaan Tuhanlah yang menciptakan kehidupan dan menyediakan segala sesuatu untuk kehidupan itu. Alam semesta, akhirnya, menjadi alasan untuk pujian yang penuh sukacita kepada Tuhan. Pujian yang mengajar manusia untuk dapat melihat segala penggunaan dari alam dan segala isinya haruslah dilakukan dengan penuh hormat kepada Tuhan. Pengamatan kedua, adalah pengenalan bahwa ketergantungan absolut dari segala makhluk ciptaan kepada Tuhan adalah tentang makanan (ayat. 27-28), dan juga untuk hidup itu sendiri (ayat. 29-30). Beragamnya jenis makanan yang dihasilkan oleh alam ini adalah hadiah dari Tuhan untuk kehidupan. Kita dapat melihat adanya ritme kehidupan dan kematian serta munculnya kehidupan yang baru dari seluruh makhluk hidup adalah efek dari adanya relasi atau hubungan antara “roh” (Ibrani: ruach) dari makhluk hidup dengan “roh” Tuhan. Roh yang Tuhan kirim adalah untuk menciptakan makhluk hidup dan untuk membarui dunia dengan kehidupan. Jadi, saat ciptaan baru tercipta dan kehidupan baru terbentuk, di situlah “ruach” atau roh Tuhan bekerja.

Mazmur 104 diakhiri dengan serangkaian harapan dan janji yang adalah tanggapan dan komitmen pemazmur yang dialamatkannya kepada Tuhan dan terungkap dalam himne dalam mazmur ini. Pemazmur menginginkan kemuliaan Tuhan berlangsung selamanya (ayat 31a) dan Tuhan bersukacita atas segala pekerjaan-Nya (ayat 31b). Pemazmur mengharapkan bahwa mazmurnya ini menjadi sebuah persembahan yang menyenangkan Tuhan (ayat 34). Selain itu, ada harapan orang fasik lenyap dari bumi (ayat 35) karena mereka ini masih ada di dalam dunia. Mereka adalah orang-orang yang hidup dalam dunia milik Tuhan dan mendapatkan keuntungan dari pemeliharaan Tuhan atas seluruh ciptaan, tetapi hidupnya justru tidak menaruh rasa respek dan hormat terhadap Tuhan Sang Pencipta dan ciptaan Tuhan lainnya. Fasik oleh karena tindakannya justru menyalahgunakan, mengeksploitasi, memanfaatkannya tanpa respek dan merusak alam ciptaan Tuhan serta segala yang ada di dalamnya.

Kesimpulan

Ada beberapa catatan penting yang menjadi pelajaran bersama dari membaca Mazmur ini dan dikaitkan dengan diskusi mengenai isu-isu ekologis.

Tuhan Allah adalah Pencipta dan Penopang alam semesta ini. Seluruh ciptaan dibuat oleh karena roh Tuhan dan hikmat-Nya Oleh karena seluruh ciptaan adalah hasil pekerjaan Tuhan dan hidup hanya karena pemeliharaan-Nya, maka seluruh ciptaan berada dalam persekutuan dengan Tuhan Sang Pencipta. (in communion with God). Dan karena semua ciptaan ada dalam “communion with God”, maka seluruh ciptaan ada dalam “communion with others” atau dengan kata lain berada dalam persekutuan satu dengan lainnya. Hal ini diperkuat dengan pemahaman yang muncul dari isi Kejadian 9:10. 12, 15, 16, dan 17 tentang Allah yang mengadakan perjanjian bukan saja dengan manusia tetapi juga dengan semua makhluk hidup. Teks Alkitab (TB) Kejadian 9:9-10 berbunyi, “Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi.” Perhatikan kalimat, “...Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu ... dan segala makhluk hidup...” Bila semua makhluk ada dalam perjanjian dengan Allah, maka sudah seharusnya memiliki relasi penuh respek dan bertanggung jawab terutama manusia yang adalah menjadi “pengurus” di dalam dunia ini. Di titik ini, manusia seharusnya dapat melihat bahwa seluruh ciptaan lain adalah “covenant partners with Yahwe” atau “mitra perjanjian dengan Allah” dengan dirinya. Apalagi dengan memperhatikan kesaksian Alkitab sendiri yang mengatakan bahwa manusia dan hewan serta segala makhluk hidup lainnya terhubung pada kenyataan diciptakan dari tanah dan masing-masing menjadi makhluk hidup (formed of the earth and each becomes a living creature). Manusia harus melihat makhluk hidup yang lain tidak hanya sebatas hanya sebagai pemenuhan kebutuhannya (antara lain makanan, tempat tinggal), tetapi melihatnya sebagai mitra dalam perjanjian Allah. Yaitu dari Allah yang peduli terhadap kesejahteraan seluruh ciptaan-Nya, mengadakan perjanjian dengan seluruh ciptaan dan berkeinginan untuk membuat seluruhnya (manusia dengan segala ciptaan-Nya) sebagai kekayaan keanekaragaman hayati bumi ini.[21] Pemahaman inilah yang membawa manusia ke dalam relasi baru dengan makhluk ciptaan Allah lainnya dan terhadap bumi serta segala isinya yang adalah karya cipta Allah.

Manusia bukanlah mahkota ciptaan (pandangan bahwa manusia adalah pusat segalanya atau anthropocentrism / antroposentris). Posisi manusia adalah di antara ciptaan yang lain, bukan di atasnya untuk kemudian menguasai dan menundukkan alam semesta (Inggris: to subdue). Manusia hanya bagian dari keseluruhan ciptaan Tuhan yang terpelihara oleh penyediaan kehidupan oleh Tuhan melalui alam semesta yang adalah milik Tuhan. Manusia hanya menjalankan fungsinya sebagai perawat atau pengurus atau pelayan (Inggris: a steward) alam dan segenap ciptaan Tuhan Allah lainnya. Tugas manusia adalah untuk mengusahakan dan memelihara (Inggris: to till and to keep) alam semesta, untuk merawat dan untuk manusia harus menghargai alam semesta dengan segala isinya, untuk mempertahankan alam semesta sebagai sesama ciptaan yang mendapatkan kehidupan sebagai hadiah dan anugerah dari Tuhan. Manusia harus menghargai eksistensi makhluk hidup lain di dalam dunia dan memeliharanya oleh karena manusia memiliki ketergantungan kepada Tuhan dan juga ciptaan Tuhan lainnya. Jadi dapat dikatakan, tanpa alam semesta dan segenap ciptaan Tuhan lainnya, manusia tidak dapat bertahan hidup. Oleh sebab itu, pandangan antroposentris harus disingkirkan jauh-jauh sebab inilah yang menjadi akar masalah dari krisis ekologi saat ini. Pandangan baru yang harus selalu dibangun adalah pemahaman bahwa manusia ditempatkan oleh Allah di dalam dan bersama-sama ciptaan-Nya yang lain untuk hidup bersama dalam persekutuan dengan Allah (communion with God, communion with others God’s creations).

Alam semesta dan segenap ciptaan lainnya memiliki ketergantungan kepada Tuhan sebagai Penciptanya. Tuhan adalah satu-satunya pemelihara yang menyediakan segala sesuatu bagi segenap ciptaan. Tuhan memberi segenap ciptaan kehidupan sebagai anugerah-Nya. Ketergantungan segenap ciptaan adalah kepada Tuhan Sang Pemberi kehidupan, dan karena itu, segenap ciptaan juga ada dalam ketergantungan satu sama lain. Tuhan Allah, pada prinsipnya adalah penyedia makanan bagi kehidupan ini, oleh sebab itu segenap makhluk hidup tergantung pada penyediaan Allah saja, pada kehadiran-Nya dan pada roh Allah (ruach). Tuhan Allah telah mencipta dan mengatur denyut kehidupan dan kematian hanya pada roh Tuhan sendiri. Jadi, segenap ciptaan Tuhan adalah refleksi dari kemuliaan ilahi Tuhan sendiri.

Penggunaan dan pemanfaatan dari alam semesta dengan segala isinya haruslah dalam rangka penghormatan kepada Tuhan Allah sebagai Pencipta. Inilah alasan kuat bagi manusia untuk dapat lebih berhati-hati dalam menggunakan sumber daya yang disediakan oleh alam, atau saat menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan dan juga saat memanfaatkan apa yang disediakan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Alam semesta dan segala ciptaan lainnya adalah alasan bagi manusia untuk memuji kebesaran dan kemuliaan kuasa Tuhan. Dengan melihat seluruh ciptaan Tuhan dan melalui kesadarannya tergantung pada alam, maka manusia memuji Tuhan sebagai Sang Pencipta.

Refleksi

Saat membaca Mazmur ini, saya teringat kata-kata dalam sebuah lagu rohani yang isinya kurang lebih mengatakan Tuhan telah mencipta dengan Firman-Nya. Tuhanlah yang menciptakan alam semesta ini, menciptakan siang dan malam, langit dan bumi, binatang, tumbuh-tumbuhan dan ciptaan lainnya. Burung pun menyanyikan pujian bagi Tuhan. Bunga yang mekar dan seisi alam ini memuji-muji nama Tuhan. Alam semesta menyanyikan nyanyian pujian kepada Tuhan oleh sebab kasih-Nya. Tuhan Allahlah yang menyediakan segala sesuatu bagi kehidupan ini dan terus memelihara keberlangsungan kehidupan dengan kuasa dan hikmat-Nya. Seluruh ciptaan memuji nama Tuhan yang memang patut untuk dipuji. Saya yakin lagu ini terinspirasi dari isi Mazmur 104.

Membaca Mazmur 104 memberi kita pengetahuan dan pengenalan akan Alkitab yang memiliki referensi penting untuk persoalan ekologi dan lingkungan hidup. Referensi yang Alkitab sudah sampaikan berguna untuk dapat memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan ekologi yang kita hadapi saat ini. Ada beberapa catatan reflektif untuk diperhatikan bersama:

Mazmur ini memberi kita pengertian bahwa Tuhan Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pemelihara segenap ciptaan. Tuhan Allah menciptakan bukan dari keadaan kosong (ex-nihilo), tetapi menciptakan segalanya sebagai sebuah penciptaan yang terus berlangsung (creation continua). Artinya, Tuhan Allah memanggil segenap ciptaan ke dalam hidup dan memperbaruinya terus menerus. Penciptaan adalah sebuah proses yang terus berlangsung. Sebagai satu-satunya Pencipta, Tuhan Allah adalah pemilik dari alam semesta dan segenap ciptaan, alam semesta dan semua yang ada di dalamnya. Semua milik Tuhan dan bergantung kepada Tuhan, serta bergantung sama lain.

Manusia adalah bagian dari ciptaan, bukan pemilik alam semesta, juga tidak berada dalam posisi yang lebih superior dibandingkan ciptaan lainnya. Perhatikan kisah penciptaan dalam kitab Kejadian, manusia juga adalah ciptaan Tuhan dan diciptakan paling akhir. Meski kita masih dapat mengatakan bahwa manusia diciptakan “lebih unik” dibandingkan ciptaan lainnya, hal ini bukanlah pandangan antroposentris (yang berpusat pada manusia karena diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan). Kita harus menolak pemahaman antroposentris ini yang adalah akar dari semua persoalan dan permasalahan ekologi dewasa ini. Dengan keunikannya, manusia dapat dipahami sebagai “representasi” dari Sang Ilahi di dalam dunia. Manusia menjadi pelayan (a steward and God’s vicary – dapat diterjemahkan “vikarisnya Tuhan” atau “pengganti” Tuhan bila mengingat bentukan lain dalam bahasa Inggris dari kata “vicari” adalah kata sifat “vicarious” yang berarti pengganti) yang memiliki tanggung jawab untuk “mengusahakan dan memelihara” seluruh ciptaan Tuhan yang lain, untuk merawat dan bukan untuk menundukkan (Inggris: to subdue). Manusia bertanggung jawab sebagai pelayan Tuhan atas alam semesta, bumi dan segala isinya. Manusia terpanggil untuk memenuhi fungsinya memelihara dan mempertahankan keberlangsungan alam semesta, untuk berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan untuk memperbarui alam dan segenap ciptaan.

Sayangnya, manusia tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Manusia melakukan banyak hal buruk terhadap alam semesta ini. Manusia tidak menghargai alam dan ciptaan Tuhan lainnya, justru atas nama usahanya memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Manusia gagal untuk menghargai nilai-nilai hakiki ciptaan Tuhan lainnya sebagai sebuah prasyarat dan prakondisi untuk dapat hidup dalam persekutuan (living in communion) dengan ciptaan Tuhan lainnya. Dengan kebebasan yang dimilikinya, manusia justru mengeksploitasi alam dan merusak alam. Padahal dengan kebebasan yang sama, manusia dapat melakukan hal yang sebaliknya yaitu untuk memelihara, menjaga, mengembangkan dan mempertahankan alam semesta ini. Jadi, tetap ada harapan.

Harapan itu dapat terwujud dengan langkah mengubah pemahaman kita tentang posisi manusia di antara ciptaan Tuhan lainnya di dalam dunia ini. Manusia harus memahami bahwa dirinya amat tergantung dengan alam semesta ini, isinya dan apa yang disediakannya. Manusia perlu memahami bahwa dirinya bersama dengan alam semesta dan semua ciptaan Tuhan lainnya memiliki ketergantungan yang sama kepada Tuhan Sang Pencipta, Pemelihara dan Penyedia kehidupan. Bersama-sama adalah ciptaan Tuhan dan mendapatkan kehidupan hanya dari Tuhan saja. Oleh karena itu, manusia dan segenap ciptaan Tuhan lainnya, haruslah hidup dalam persekutuan dengan Tuhan dan dalam persekutuan satu dengan yang lainnya (in communion with God and in communion with each others). Dengan melakukan hal ini, manusia dapat memperlakukan alam dan ciptaan lain dengan penghargaan terhadap tujuan dan nilai hakiki dari setiap ciptaan Tuhan. Hal ini pastilah akan dapat menimbulkan solidaritas terhadap alam semesta dengan segala isinya.

Hal yang dapat dilakukan

Dari paparan di atas, termasuk juga bagian refleksi, maka ada beberapa hal yang diajukan sebagai sebentuk proposal aksi yang dapat dilakukan oleh Gereja, dan terutama Gereja Kristen Pasundan bersama seluruh anggota jemaatnya.

Mengedukasi warga jemaat

Gereja Kristen Pasundan melalui kegiatan pembinaannya harus mengedukasi warga jemaat. Pertama-tema mengedukasi warga jemaat untuk tidak lagi memiliki pemahaman antroposentris yang menjadi akar persoalan ekologi saat ini. Pemahaman tentang manusia sebagai mahkota ciptaan, sebagai ciptaan tertinggi dan termulia, serta sebagai yang diberikan perintah untuk “menaklukkan” bumi ini. GKP perlu mengedukasi warga jemaat untuk dapat memiliki pemahaman bahwa manusia diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah sendiri, justru untuk dapat turut bersama-sama dengan Allah memelihara, merawat dan mengusahakan bumi dengan segala isinya.

Warga jemaat GKP perlu untuk memahami bahwa dirinya dan bersama seluruh umat manusia diciptakan untuk ada di antara dan bersama-sama dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Manusia tidak lebih dari ciptaan Allah lainnya dan karena itu manusia harus memiliki hidup yang berada dalam persekutuan dengan ciptaan Allah yang lain, yaitu yang sama-sama berada di dalam perjanjian dengan Allah. Dengan pemahaman ini, manusia seharusnya dapat memiliki sikap respek terhadap bumi dan segala isinya, bahkan seluruh alam semesta ini.

Gereja Kristen Pasundan dapat mempromosikan solidaritas bukan saja kepada mereka yang lebih, miskin, papa dan teraniaya, tetapi juga kepada alam lingkungan terutama yang ada di sekitarnya. GKP perlu membangun kesadaran akan adanya realitas persoalan ekologi yang sedang terjadi, dan mendorong seluruh bagian dirinya untuk mau menghadapi dan mulai mengurai persoalan-persoalan ekologi yang ada dengan aksi-aksi nyata. Untuk maksud itu, GKP perlu untuk mempromosikan pengajaran eko-spiritualitas (eco-spiritualism) yang berpijak pada pengertian bahwa seluruh yang ada adalah ciptaan Tuhan, diselamatkan dan diperbarui oleh Tuhan, dan manusia dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya dan pekerjaan Allah memelihara, merawat dan melestarikan alam semesta ciptaan-Nya.

Mengubah gaya hidup

Pastilah sebuah langkah dan upaya yang amat besar untuk mengadakan perubahan secara global, tetapi bukan berarti lantas kita tidak bisa melakukan perubahan itu. Perubahan dapat dilakukan dan dimulai dari langkah kecil dari diri kita sendiri. Misalnya, belakangan ini marak berita tentang polusi plastik yang telah amat mengkhawatirkan. Sampah plastik yang tidak bisa terurai ratusan tahun telah mengotori bukan saja tanah, tetapi juga lautan. Ikan dan biota laut lainnya menderita oleh karena sampah plastik yang mengotori laut di hampir seluruh belahan dunia ini. Bahkan, bukan tidak mungkin, ikan yang dikonsumsi manusia juga telah tercemar plastik yang dicerna sebelumnya oleh ikan. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Jelas pertama-tama adalah jangan membuang sampah plastik begitu saja seperti ke sungai-sungai. Langkah selanjutnya adalah dengan mengurangi penggunaan plastik di dalam kehidupan sehari-hari. Seperti tidak lagi menggunakan dan meminta kantong plastik saat berbelanja di warung atau toko swalayan. Mulailah menggunakan tas belanja bukan plastik yang kita bawa dari rumah. Demikian juga kita dapat mulai menggunakan sedotan khusus bukan plastik untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik sekali pakai dari plastik, atau menggunakan botol air ramah lingkungan yang dapat dipakai berulang untuk mengurangi penggunaan botol air kemasan yang menggunakan plastik, atau meminta penjual minuman kopi di kafe untuk tidak menggunakan gelas plastik dan mengganti dengan gelas biasa atau menggunakan tumbler atau botol bukan plastik yang kita bawa sendiri. Contoh-contoh ini adalah upaya kita mengubah gaya hidup. Dari yang selama ini bergantung pada penggunaan plastik kepada gaya hidup yang tidak lagi menggunakan plastik.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengurangi penggunaan kertas. Misalnya saat mengambil uang di ATM, bisa tidak merasa perlu, maka kita tidak perlu untuk mencetak bukti. Bukti cetak ATM terbuat dari kertas. Untuk membuat kertas, maka diperlukan pohon sebagai bahan bakunya. Untuk memperoleh pohon, maka pohon-pohon di hutan ditebang dan kadang tidak ditanami kembali. Akibatnya hutan menjadi gundul, tidak lagi dapat menahan air sehingga mudah timbul banjir dan tanah longsor. Hutan yang gundul juga mengakibatnya hewan-hewan liar tidak lagi memiliki tempat tinggal dan akibatnya dapat punah. Oleh karena itu, penggunaan kertas harus dibatasi sedemikian rupa dan hanya dipergunakan bila memang dibutuhkan. Kertas bekas pun dapat didaur ulang menjadi banyak hal termasuk untuk membuat kertas daur ulang dan benda-benda kerajinan tangan lainnya. Pengurangan pemakaian kertas juga dapat dilakukan dengan menggunakan bagian kertas yang kosong untuk maksud yang lain. Dalam kehidupan persekutuan, maka hal ini dapat dilakukan dengan mengurangi atau meniadakan warga jemaat cetak, dan mulai beralih kepada warta jemaat yang disampaikan melalui tampilan multimedia di saat kebaktian dan bentuk softcopy melalui surat elektronik atau media sosial.

Mengubah gaya hidup juga dapat dilakukan dengan membiasakan diri untuk hemat energi listrik. Caranya? Banyak! Kita dapat memulai menghemat energi listrik dengan cara mematikan lampu dan alat elektronik lain bila tidak dipergunakan, mengatur alat pendingin ruangan tidak terlalu dingin (karena semakin dingin alat pendingin ruangan, penggunaan listrik pun semakin besar). Kenapa kita harus hemat listrik? Untuk memperoleh listrik, diperlukan batu bara. Untuk mendapatkan batu bara, tambang dibuka dan artinya hutan harus ditebang supaya tanah dapat digali untuk mendapatkan batu bara.

Mengubah gaya hidup menjadi ramah lingkungan dengan melakukan beberapa hal berikut, yaitu seperti memilih dan memilah sampah domestik (rumah tangga) menjadi sampah basah bekas makanan, sampah plastik dan sampah lain berupa kaleng atau botol, dengan melakukan daur ulang, dengan cara memperbaiki barang rumah tangga semampu kita sehingga dapat dipergunakan kembali dan bukan mengganti, atau dengan menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle, repair, refuse, dan rethink. Keenam prinsip ini penjelasannya adalah: reduce dengan cara mengurangi penggunaan plastik, baik untuk kantong belanjaan maupun kemasan (usahakan mengurangi pembelian produk dalam kemasan plastik kecil yang berarti memperbanyak sampah plastik, lebih baik membeli produk dalam kemasan yang lebih besar), reuse dengan menggunakan barang-barang yang dapat dipergunakan ulang seperti tumbler atau botol air khusus, sedotan bukan plastik dan lain sebagainya, recycle dengan mendaur ulang atau menggunakan kembali barang-barang, seperti memakai ember yang bolong sebagai pot tanaman, melakukan pilah pilih sampah dan lain sebagainya, repair dengan memperbaiki barang-barang sehingga dapat dipergunakan kembali dan tidak sekedar dibuang, refuse dengan cara menolak penggunaan stereoform sebagai wadah saji makanan terutama makanan panas, dan rethink dengan selalu berpikir berulang kali sebelum memutuskan untuk membeli barang, apakah kebutuhan atau keinginan. Hal ini akan mengurangi adanya penumpukan barang tidak terpakai yang biasanya akan berujung pada tempat sampah.

Mengubah gaya hidup menjadi ramah lingkungan dapat juga dilakukan dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dalam bertransportasi. Misalnya dengan cara memilih jalan kaki ke toko terdekat untuk membeli sesuatu dan tidak memilih menggunakan kendaraan bermotor, atau menggunakan kendaraan umum lebih dari menggunakan kendaraan pribadi. Hal yang dihemat adalah penggunaan bahan bakar fosil (BBM) yang tidak tergantikan dan terbarukan.

Mengubah gaya hidup menjadi gaya hidup yang sederhana dan simpel, dengan kesederhanaan hidup yang lebih ramah lingkungan.

Terlibat dalam aktivitas lingkungan hidup

Sebagai wujud nyata dari eko-spiritualitas (eco-spiritualism), maka seluruh bagian Gereja Kristen Pasundan kiranya dapat terpanggil untuk terlibat dalam aktivitas lingkungan hidup. Program tanam bakau yang menjadi salah satu dari rangkaian kegiatan perayaan HUT ke-85 Gereja Kristen Pasundan adalah langkah awal yang sangat bagus. Langkah awal yang diikuti dengan aktivitas lingkungan hidup lainnya, baik yang berskala besar ataupun yang berskala kecil yang dimulai dari rumah dan lingkungan gereja. Aktivitas-aktivitas lingkungan hidup lain yang sederhana tetapi dapat dilakukan dengan kontinu adalah antara lain seperti:
  • mengumpulkan biji-bijian dari buah-buah yang kita makan (seperti mangga, durian dan sebagainya) untuk dengan sengaja dibuang ke lahan-lahan kosong. Harapannya, suatu saat biji-bijian yang dibuang dapat hidup dan tumbuh, serta pada akhirnya menghasilkan buah (hal yang sama telah menjadi gerakan sosial di Thailand);
  • membuat sampah basah domestik / rumah tangga (sisa makanan) dan daun-daunan menjadi pupuk kompos organik melalui proses yang sebenarnya tidak susah;
  • membuat titik-titik serapan air di halaman rumah yang akan membuat air dapat masuk ke tanah dan pada akhirnya menjadi persediaan air;
  • mengurangi (kalau belum bisa meniadakan) penggunaan detergen yang dapat mencemari air dan tanah;
  • menanam pohon atau tanam-tanaman di pekarangan rumah, dan bila tidak memungkinkan menaman pada media tanah, dapat mempergunakan sistem tanam hidroponik
  • mendesain rumah dan juga ruang gereja yang hemat energi listrik, terutama dalam upaya mengurangi penggunaan mesin pendingin ruangan dan penggunaan lampu penerangan; yaitu dengan mendesain ruangan yang dapat menerima cahaya matahari yang banyak (hemat energi listrik pada waktu siang), menggunakan lampu hemat energi, dan membuat jendela-jendela yang memadai untuk terjadi sirkulasi udara yang cukup dalam ruangan;
  • membawa dan menggunakan tas belanja sebagai ganti penggunaan kantong belanja plastik yang amat tidak ramah lingkungan; tas belanja yang kita bawa dari rumah dapat berulang-ulang adalah jauh lebih baik dari kantong plastik biasa yang tidak bisa terurai bahkan sampai ratusan tahun, serta pastinya mencemari tanah dan air;
Penutup

Ada kalimat bijak demikian, “Care for the environment today for a better life tomorrow”. Peduli dengan lingkungan hidup sekarang, adalah untuk memiliki kehidupan yang lebih baik esok. Kalimat ini ada benarnya. Bila kita tidak berhati-hati dalam merawat lingkungan hidup, bumi dengan segala isi yang ada di dalamnya, maka sesungguhnya kita sedang merusak kehidupan masa depan yang adalah milik generasi yang selanjutnya. Harus selalu diingat bahwa bumi yang kita tempati sekarang dengan segala isinya bukanlah warisan nenek moyang kita, tetapi adalah pinjaman dari anak cucu kita – dari generasi selanjutnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya, sejak saat ini kita harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup dan bersama-sama mencari cara untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah dan persoalan ekologi yang terjadi saat ini.

Bersyukur Gereja Kristen Pasundan memberikan perhatian pada masalah-masalah lingkungan hidup dan telah turut berperan dalam rangka memelihara lingkungan hidup di sekitarnya. Momen HUT ke-85 Gereja Kristen Pasundan ini kiranya juga memberikan kita semangat baru dan sudut pandang baru terhadap apa yang selama ini dilakukan dan terhadap apa yang akan dilakukan selanjutnya terkait lingkungan hidup. Pandangan baru yang menitik beratkan pada pemahaman bahwa seluruh ciptaan Tuhan ada dalam persekutuan dengan Tuhan Sang Pencipta, dan karena itu berada di dalam persekutuan satu dengan yang lain sebagai yang sama-sama menerima perjanjian dari Allah.

Secara khusus, bagi Gereja Kristen Pasundan, langkah turut berpartisipasi aktif dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup adalah bagian dari upaya pencapaian Rencana Kerja Dasar GKP dan Rencana Strategis Menuju 100 tahun Gereja Kristen Pasundan, yaitu untuk dapat menjadi persekutuan yang proaktif menjaga serta memelihara keseimbangan alam dan keutuhan ciptaan Allah.

Daftar Bacaan

Allen, Leslie C. Word Biblical Commentary volume 21. Psalms 101-150, revised. Columbia: Thomas Nelson, Inc. 2002.

Anderson, A.A. The Book of Psalms volume I Psalms 1-72 (New Century Bible Commentary). Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company. 1981.

--------------- The Book of Psalms volume II Psalms 73-150 (New Century Bible Commentary). Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company. 1981.

Crenshaw, James L. The Psalms: An Introduction. Grand Rapid: William B. Eerdmans Publishing Company. 2001.

Day, J. Psalms. England: Sheffield Academic Press Ltd. 1992.

Gertz, Jan Christian, Angelica Berlejung et.all. (eds.), Purwa Pustaka: Eksplorasi ke Dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Deuterokanonika, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017.

Mays, James Luther. Psalms: Interpretation: A Biblical Commentary for Teaching and Preaching. Louisville: John Knox Press. 1994.

Olley, John. Mixed Blessing for Animals: The Contras of Genesis 9, dalam Norman C. Habel and Shirley Wurst (eds.), The Earth Story in Genesis, England : Sheffield Academic Press, 2000.

Schaefer, Konrad OSB. Psalms: Studies in Hebrew Narrative and Poetry. Minnesota:A Michael Glazier Book. 2001.

Terrien, Samuel. The Psalms: Strophic Structure and Theological Commentary. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company. 2003.



[1] Ditulis ulang dari salah satu karya tulis (dalam bahasa Inggris) penulis di Graduate School of Theology, Hanshin University di Korea Selatan dan dipersembahkan untuk karya pelayanan ekologi Gereja Kristen Pasundan.

[2] Pendeta Pelayanan Umum Gereja Kristen Pasundan.

[3] Kata Indonesia "Mazmur" berasal dari bahasa Arab yang berasal dari bahasa Etiopia, yang masih berhubungan dengan kata Ibrani "Mizmor", lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Mazmur, diakses 9 Oktober 2019, pukul 18.46.

[4] Arnold Albert Anderson. The Book of Psalms volume 1 Psalms 1-72 (New Century Bible Commentary). Grand Rapids: WM.B Eerdmans Publs, Co. 1981. 23.

[5] Ibid.,

[6] Ibid., 24.

[7] John Day. Psalms. England: Sheffield Academic, Ltd. 1992. 11-12.

[8] Ibid.. 13.

[9] Markus Witte, Kitab Mazmur dalam Jan Christian Gertz, Angelica Berlejung et.all. (eds.), Purwa Pustaka: Eksplorasi ke Dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Deuterokanonika, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017. 622.

[10] James L. Crenshaw. The Psalms: An Introduction. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2001. 3.

[11] Markus Witte, Kitab Mazmur, 623.

[12] John Day. Psalm. 40.

[13] Ibid., 41.

[14] Ibid., 39.

[15] John Day. Psalms. 41. bandingkan Arnold Albert Anderson. The Book of Psalms volume II Psalms 73-150 (New Century Bible Commentary). Grand Rapids: WM.B Eerdmans Publs, Co. 1981. 717.

[16]Ibid., 42.

[17] Penulis mengikut pembagian struktur dalam: Samuel Terrien. The Psalms: Strophic Structure and Theological Commentary. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2003. 706-708. Bandingkan dengan Arnold Albert Anderson. The Book of Psalms volume II Psalms 73-150 (New Century Bible Commentary). Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company. 1981. 717-725 dan bandingkan juga dengan Leslie C. Allen. Word Biblical Commentary volume 21 Psalm 101-150, revised. Columbia: Thomas Nelson, Inc. 2002. 44.

[18] Konrad Schaefer, OSB. Psalms: Studies in Hebrew Narrative and Poetry. Minnesota: A Michael Glazier Book. 2001. 258.

[19] James Luther Mays. Psalms: Interpretation A Biblical Commentary for Teaching and Preaching. Louisville: John Knox Press, 1994. 331.

[20] Ibid., 332-335.

[21] John Olley, Mixed Blessing for Animals: The Contras of Genesis 9, dalam Norman C. Habel and Shirley Wurst (eds.), The Earth Story in Genesis, England: Sheffield Academic Press, 2000, 130-139.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar