Kamis, 06 Maret 2014

Lakukan dengan setia!

Baca : Ulangan 5 : 1-33
Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri. (Ulangan 5:32)

Ada dua kata kunci di sini, yaitu lakukanlah dan setia. Kata bahasa Ibrani yang dipergunakan untuk lakukanlah adalah asah yang artinya melakukan, berbuat seperti, bertindak seperti. Sedangkan kata Ibrani untuk setia adalah shamar yang artinya adalah memperhatikan, berpegang erat pada dan melakukan tepat seperti yang dicontohkan. Demikianlah perintah TUHAN Allah kepada bangsa Israel melalui Musa (ayat 7-21), yaitu supaya bangsa Israel melakukan dengan tepat segala perintah-Nya. Yaitu untuk memperhatikan dan melakukan Firman Tuhan itu tepat seperti yang Tuhan kehendaki dan tidak menyimpang daripadanya (ayat 32).
            Perintah ini kelihatannya sederhana dan mudah. Kenyataannya tidak. Tidak mudah untuk dapat terus terfokus dalam melakukan perintah TUHAN Allah itu. Ada banyak hal yang dapat mengalihkan perhatian kita. Dunia dengan segala hal yang ditawarkannya, kesusahan hidup, keegoisan diri, dan masih banyak lagi Oleh sebab itu, firman TUHAN mengingatkan supaya jangan kita menyimbang ke kanan atau ke kiri, tetapi tetaplah terfokus. Roh Kuduslah yang memampukan kita tetap fokus hanya pada kebenaran Firman TUHAN saja.
Demikianlah juga perintah Firman TUHAN Allah kepada kita sekarang ini. Di tengah hingar bingar kehidupan ini, sayup tapi tegas suara TUHAN kita dengar. Yaitu untuk melakukan Firman TUHAN dengan setia, tepat seperti apa yang menjadi kehendak-Nya. Bila demikian, maka janji TUHAN Allah kepada umat-Nya adalah kita akan beroleh hidup yang baik dan terpelihara di dalam Tuhan saja (ayat 33). -AAS

MELAKUKAN FIRMAN TUHAN ADALAH WUJUD KESETIAAN MUTLAK KITA KEPADA TUHAN ALLAH


Senin, 20 Januari 2014

Menikmati Humor Gus dur

sumber http://terisicyber75.blogspot.com/
Ada satu hal yang sangat ingat betul tentang Gus Dur yang terkait dengan pengalaman pelayanan saya sebagai seorang pendeta Gereja Kristen Pasundan. Ini terjadi di tahun 2001. Pada saat itu, sekitar akhir awal bulan Juni 2001 saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung di Timor Timur yang baru saja lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saat itu saya beberapa kawan bergabung dengan sebuah LSM asal Korea Selatan untuk sebuah misi pelayanan bagi anak-anak sekolah minggu. Saat saya berangkat menuju Timor Timor, Gus Dur adalah orang nomor satu di negeri yang kita cintai ini. Sebuah kenyataan yang membanggakan karena seorang sosok yang sangat pluralis dan berwawasan kebangsaan yang dalam menjadi seorang presiden di negeri ini. Dua bulan berada di satu desa di distrik Los Palos, hidup tanpa aliran listrik dan akses ke media membuat saya tidak tahu perkembangan yang terjadi di dunia luar, termasuk perkembangan di negeri sendiri. Selang dua bulan tertugas di Timor Timur saya kembali ke wilayah Indonesia, tepatnya di kota Atumbua barulah saya tahu ada perkembangan politik yang luar biasa mengejutkan. Seorang Gus Dur dilengserkan dari kedudukannya sebagai presiden dan digantikan oleh Megawati.

Ingatan saya tentang seorang Gus Dur bukanlah saja tentang peristiwa pelengserannya dari jabatan kepresidenan negeri ini. Ingatan saya tentang sosok seorang Gus Dur yang bagi sebagian orang dikenal sebagai seorang yang kadang controversial dengan berbagai pernyataannya, adalah humor-humornya. Humor khas Gus Dur yang cerdas, renyah, mengena karena kadang mengandung kritikan tetapi juga jenius karena mengajak kita untuk sesaat menertawakan diri sendiri. Misalnya saja  tentang humor fenomena ‘gila’ presiden Indonesia yang dilontarkan Gus Dur. Dikatakan bahwa presiden pertama Indonesia dikenal gila perempuan, presiden kedua dikenal gila harta, presiden ketiga gila teknologi dan presiden keempat, yaitu dirinya sendiri, yang “gila” adalah yang memilihnya. Humor ini ‘katanya’ pernah dilontarkan Gus Dur di depan Fidel Castro dan membuat Fidel Castro tertawa terpingkal-pingkal. Atau humor yang senada dengan itu, misalnya saat Gus Dur melontarkan pendapatnya bahwa seluruh presiden Indonesia itu KKN. Presiden pertama ‘Kanan Kiri Nyonya’, presiden kedua ‘Kanan Kiri Nyolong’, presiden ketiga, yaitu BJ Habibie ‘Keci-kecil Nekad’ dan dirinya sendiri sebagai presiden keempat, ‘Kanan Kiri Nuntun;. Ini pembelajaran yang luar biasa. Tentunya bukan bermaksud mengejek, tetapi membuat kita yang mendengarnya sedang diajar untuk bisa menertawakan diri sendiri. Banyak orang yang terlalu sering menertawakan orang lain, tetapi tidak bisa menertawakan dirinya sendiri. Buat saya yang mendengarnya, humor semacam ini sungguh jenius. Ya, orang yang sanggup menertawakan dirinya sendiri adalah orang jenius dan berhati besar untuk bisa menerima juga kehadiran orang lain apa adanya, karena ia melihat dirinya apa adanya.