Selasa, 21 April 2020

Praktik Pengarsipan dan Nilai Strategis dalam Konteks Kehidupan Persekutuan di GKP


PRAKTIK PENGARSIPAN
DAN NILAI STRATEGIS DALAM KONTEKS KEHIDUPAN PERSEKUTUAN DI
GEREJA KRISTEN PASUNDAN
Oleh
Pdt. T. Adama Antonius Sihite., M.Th[1]
(tulisan ini telah dipublikasi dalam buku Kenangan 50 Tahun Pelayanan Pdt. Em. Winata Sairin)

PENDAHULUAN

Pdt. Em. Weinata Sairin, M.Th adalah salah seorang pendeta emeritus Gereja Kristen Pasundan yang memiliki kiprah luas khususnya di dunia ekumenis Indonesia. Beliau pernah menjadi Wakil Sekretaris Umum MPH PGI periode tahun 1989-2000 dan periode tahun 2004-2009, setelah sebelumnya menjadi Wakil Sekretaris Umum BP Sinode Gereja Kristen Pasundan (1978-1990). Penulis mengenal beliau sebagai seorang aktif menulis dan menyunting buku. Beliau telah menghasilkan sejumlah buku di antaranya: Untaian Data dan Fakta GKP (BP Sinode GKP, 1990), Himpunan Peraturan di Bidang Keagamaan (1994), Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah (1995), Gereja, Agama-agama dan Pembangunan (1998), Identitas dan Ciri Khas Pendidikan Kristen di Indonesia antara Konseptual dan Operasional (2000), Menghidupi Angin Perubahan: Percikan Permenungan Merefleksikan Kehidupan (2006), Pesan-pesan Kenabian di Pusaran Zaman (2007), Kekristenan dan Kemajemukan dalam Negara Pancasila (2009), Menjadi Gereja yang Menggarami Dunia (2009), Suara-suara Menyeruak Udara: Serpihan-serpihan Pemikiran di Pusaran Kehidupan Kekinian (2009, ditulis bersama Pdt. Yewangoe),  Menggereja  di Tengah Zaman yang Berubah: Himpunan Keputusan Sidang Sinode GKP Tahun 1969-1994 (2013), Mengenal Lembaga-lembaga Keagamaan di Indonesia (2013), Gagas Bernas Padat Para Penjaga Umat: Percik-percik Pemikiran Pendeta GKP yang Telah Berjerih Lelah Berkiprah Mencipta Sejarah Hingga Akhir Hayat. Buku ini berisikan tulisan para pendeta emeritus GKP (2015), dan lain sebagainya.

Dari sejumlah hasil suntingannya, Pdt. Weinata Sairin, yang kerap di panggil akrab Pak Wein, terlihat memberikan perhatian yang besar terhadap pentingnya upaya pengumpulan dan publikasi arsip-arsip terpilih Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia dan juga Gereja Kristen Pasundan. Tulisan sederhana ini dibuat penulis adalah untuk menghormati Pak Wein yang telah menginspirasi penulis untuk lebih memberikan perhatian kepada pengorganisasian arsip dokumen penting Gereja Kristen Pasundan dan pada saatnya mempublikasikan arsip-arsip terpilih untuk dapat diketahui oleh generasi selanjutnya.

Budaya Sebagai Modal Rancang Bandung Teologi Lokal Bagi GKP: Belajar dari Nilai Kasundaan Yang Universal


Kudu bisa pindah cai pindah tampian
(Tulisan ini telah dipublikasikan dalam Buku HUT ke-80 GKP)

Abstraksi
Kebudayaan adalah modal untuk mekonstruksi teologi lokal bagi gereja. Nilai-nilai di dalamnya adalah kekayaan luar biasa yang dapat dipergunakan untuk dapat mengkomunikasikan berita kabar baik tentang Kristus. Dalam upaya untuk merancang bangun teologi lokalnya, Gereja Kristen Pasundan haruslah memperhatikan kekayaan budaya-budaya yang ada, dalam hal ini salah satunya adalah budaya Sunda, sambil tetap tidak melupakan untuk tetap kritis tidak terjebak pada romantisme budaya seraya tetap memberikan perhatian pada teologi dan tradisi gereja yang selama ini ada. Selain itu, Gereja Kristen Pasundan harus tetap memberikan perhatian pada refleksi teologis atas teks dan konteks Alkitab, serta konteks kehidupan masyarakat dimana ia berada. Refleksi teologis yang pada akhirnya berbentuk respon gereja terhadap persoalan-persoalan sosial yang ada di dalam masyarakat, dinamika kehidupan di dalamnya dan upaya menghasilkan usaha transformasi sosial di dalamnya.

Pendahuluan
Penulis sadar tidak lahir sebagai orang Sunda, dan memiliki pengalaman yang cukup tentang budaya Sunda. Ketertarikan terhadap sebuah budaya Sunda dan unsur-unsurnya semata-mata lahir dari kenyataan berada di tengah-tengah budaya itu sendiri. Untuk hal ini, penulis teringat pendapat Stephen Bevans, bahwa seseorang yang tidak benar-benar berasal dan berbagi pengalaman utuh terhadap suatu budaya (karena tidak berasal dari lingkungan budaya tersebut) dapat berkonstribusi dalam konstrusksi teologi kontekstual di tengah budaya ia berada saat ini.[2] Oleh karena itu, sebagai orang yang meski bukan berasal dari tengah budaya Sunda, tetapi hidup di tengah masyarakat Sunda, penulis memberanikan diri untuk mencoba melihat dan menemukan adanya kekayaan unsur budaya Sunda yang dapat dipergunakan sebagai sumber berharga dalam pelayanan Gereja Kristen Pasundan.[3] Syaratnya, menurut Bevans, adalah adanya keinginan yang dalam untuk berpartisipasi dalam budaya tersebut dengan cara belajar dan mengapresiasi berbagai tulisan sosiologis dan antropologis dari budaya yang dimaksud.[4]

Kebudayaan: Ragam Pengertian
                Edward Bennet Tylor dalam bukunya Primitive Culture: Research into the Development of Mythology Religion, Arts and Custom (Boston: Estes & Lauriat, 1874) mencatat ada sekitar 170 definisi budaya. Budaya adalah keseluruhan yang kompleks dari pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, kebiasaan dan kapabilitas dan kebiaasaan lain yang dibutuhkan oleh manusia untuk menjadi bagian dari suatu masyarakat, atau dengan kata lain adalah keseluruhan hidup manusia itu sendiri.
                Manusia selalu berinteraksi dengan manusia lain. Dalam interaksinya, terjadi pertukaran (saling berbagi) konsep nilai, kebiasaan, pola pikir, ide-ide dan cara hidup dengan orang lain. Di dalam berkebudayaan, manusia saling berbagi kesamaan dan komunalitas hidup dan pada saat bersamaan, dengan berkebudayaan manusia dapat membedakan satu komunitas hidup dengan komunitas lainnya. Ada proses belajar dari manusia lainnnya dalam bentuk simbol, nilai, dan aktivitas kehidupan lainnya. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan manusia itu mempengaruhi dan dipengerahui oleh budaya. [5]
Ada dua level kebudayaan, yaitu level permukaan dan level dalam. Level permukaan adalah pola-pola budaya yang ditemukan dalam apa yang manusia lakukan, pikirkan dan rasakan. Sedangkan level dalam adalah pola budaya dalam bentuk memilih, merasakan, beralasan, menginterpretasikan, menilai, menjelaskan, menghubungkan satu hal dengan hal lain, berkomitmen terhadap manusia lain, beradaptasi dan dalam memutuskan untuk mengadakan perubahan di sekitar kehidupannya .[6] Dua level budaya ini adalah tentang bentuk budaya yang kelihatan (tangible) dan yang tidak tidak kelihatan (intangible dalam bentuk worldview atau cara pandang). Kebudayaan adalah pola-pola dalam kehidupan yang ditransmisikan sepanjang sejarah dan hadir dalam simbol-simbol, konsep-konsep yang diwariskan dan diekspresikan secara simbolik serta dikomunikasikan manusia, diabadikan manusia dan dikembangkan dalam sistem pengetahuan dan prilaku melalui kehidupan manusia sehari-hari. [7]